Bed rest day 6
Infonya rada telat. Beberapa hari terakhir menjadi hari-hari yang membosankan. Bed rest terus-menerus. Sebenernya keluhan-keluhan sakit bukan dateng secara tiba-tiba. Tapi udah nyaris sebulan ini dan gw gak terlalu memedulikannya. Hari rabu minggu lalu, gw udah gak tahan lagi. Dipanggil dokter kantor, dan siangnya gw dipulangkan buat dirujuk ke rumah sakit.
Sakitnya gak ketolongan. Dan setelah dicheck, ternyata bantalan tulang punggung gw (bagian bawah di pinggang) menyempit. Well, itu bisa sembuh perlahan-lahan dengan fisioterapi. Tapi dari hasil foto yang lain juga memperlihatkan bahwa gw memiliki kecenderungan skoliosis. Sepintas terdengar asing, tapi rasanya gw tau. Dan yeah, itu memang sudah permanen, gak bisa sembuh. Skoliosis itu apa ? Silahkan google sendiri.
Sekarang bukan saatnya membahas tentang penyakit gw yang cukup serius.
Beberapa saat terakhir ini gw sering banget denger orang ngeluh betapa "patheticnya" mereka hidup. Betapa memprihatinkan nasibnya. Takdirnya yang buruk. Dan lain sebagainya yang intinya menyalahkan faktor eksternal.
Terkadang, denger opini miring tentang diri kita udah emosi duluan, tanpa dibedah terlebih dahulu. Jangankan opini, malah kebanyakan dari mereka sudah membuat spekulasi di awal. Padahal, bisa saja ini menyesatkan bagi diri sendiri.
Di suatu meeting dengan internal team, bos gw menyebutkan kalimat yang sekarang gw inget banget dan gw jadikan nasihat bagi orang-orang yang sedang putus asa. Bagi orang-orang yang merasakan bahwa hidup ini tidak adil. Betapa menyedihkan nasib dan peruntungannya.
Now, listen to me,
Jangan pernah menyalahkan takdir atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Kita miskin, lantas kita bilang, "itu sudah takdirku". Jangan pernah !!
Karena apa ??
Takdir tidak datang dengan sendirinya. Bukan siapa atau apa yang membentuk takdir. Kitalah yang menciptakan nasib / takdir kita sendiri.
Berawal dari sebuah kebiasaaan. Dimana kebiasaan / habit itu akan membawa kita pada karakter. Dan akhirnya, karakter-karakter itu akan membantu kita dalam pencapaian destiny.
Jadi, kalo elo jobless, bukan salah karena pendidikan lo rendah / perusahaan terlalu tinggi menetapkan standar. Tapi karena elo sendiri. Sebodoh-bodohnya orang, gak mungkin gak ada pekerjaan di dunia ini yang tidak bisa menyambangi hidup kita.
Kuncinya, BANGUN PAGI. Jangan pernah males untuk bangun pagi, sarapan dan selalu sempatkan waktu untuk Tuhan. Dengan kita rajin bangun pagi dan bisa mengukur waktu untuk berangkat kerja, dengan sendirinya akan menjadi kebiasaan kita. Bahkan di hari libur pun, kita akan tetap terbiasa bangun pagi dan mengerjakan kegiatan lainnya. Bangun pagi, rajin bekerja, aktif dan kemudian membawa kita pada prestasi. Terdengar mudah ya ?
Percaya atau tidak, memang begitu kronologisnya. Gagal ?? Coba lagiii.. pantang menyerah. Hidup memang tidak mudah. Jangan pernah berharap satu kali usaha lalu membuahkan hasil. Hindari rasa puas. Kalau usahamu cenderung gagal. berarti rentetan tadi harus kamu lipatgandakan effortnya.
Skali lagi, terdengar enteng ya ??
Gw yakin, smuanya bisa kalo ada usaha. Satu lagi, terkadang kita selalu berdoa kepada Tuhan untuk memohon meringankan beban kita. Coba diganti dengan kalimat yang lebih positif.
"Dear Tuhan, kuatkanlah punggungku agar aku mampu memikul semua tanggung jawab dan beban yang Kau berikan. Insya Allah, aku akan sampai pada garis yang telah Kau tentukan dengan baik"
Semoga beruntung smuanya :)
Aretha
0 comments:
Post a Comment